Kamis, 27 Januari 2011

Manajemen Kelas Rangkap


A.    Pengertian Manajemen Kelas Rangkap
Manajemen kelas rangkap pada dasarnya berangkat dari konsep manajemen kelas dengan konsep kelas rangkap. Kata manajemen kelas memiliki pengertian sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam rangka menciptakan dan mempertahankan organisasi kelas yang kondusif sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan optimal. Sedangkan kelas rangkap memiliki pengertian sebagai sebuah kelas dimana di dalamnya terdapat penggabungan siswa yang memilki perbedaan usia, kemampuan, minat dan tingkatan kelas. Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen kelas rangkap ini mempunyai pengertian sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam rangka menciptakan dan mempertahankan organisasi kelas yang kondusif dimana di dalamnya terdapat penggabungan siswa yang memiliki perbedaan usia, kemampuan, minat, dan tingkatan kelas sehingga siswa dapat belajar dengan baik dan optimal.
Dalam menajemen kelas rangkap terdapat konsep pembelajaran kelas rangkap. Pembelajaran kelas rangkap adalah penggabungan sekelompok siswa yang mempunyai perbedaan usia, kemampuan, minat, dan tingkatan kelas di mana dikelola oleh seorang guru atau beberapa guru yang dalam pembelajarannya difokuskan pada kemajuan individual para siswa (Franklin dalam Suprayekti, 1967). Selain definisi tersebut sebagian praktisi pendidikan juga mendefinisikan pembelajaran kelas rangkap dengan menggunakn istilah multigrade dan multiage. Menurut Elkind dalam buku Pembaharuan pembelajaran di SD (2007), bahwa istilah multigrade menggambarkan sebuah kelas yang berisi para siswa dari 2 atau lebih tingkatan kelas dengan satu guru di ruangan yang sama pada suatu waktu. Kemudian siswa belajar dengan menggunakan kurikulum yang spesifik untuk tingkatan kelasnya dan demikian pula dengan tingkat kesukaran tes yang disesuaikan dengan tingkatan kelas mereka. Dengan demikian jelas terlihat bahwa dalam ”multigrade classroom” atau pembelajaran kelas rangkap diadakan untuk alasan administrasi dan ekonomi. Seperti halnya yang terjadi di sekolah-sekolah di daerah terpencil di Indonesia terdapat banyak sekali yang merangkap kelas karena memang tidak ada tenaga guru dan bukan karea alasan tujuan atau alasan pendidikan.
Lain halnya dengan istiah “multiage classroom” yang mengacu pada praktik pembelajaran yang didalamnya terdapat perbedaan tingkatan usia yang sengaja dicampur, karena kepentingan tujuan pendidikan yang diinginkan. Dengan demikian, bahwa pemgertian multigrade dan multiage ini pada akhirnya mengacu pada pengertian pembelajaran kelas rangkap.

B.     Karakterisktik Manajemen Kelas Rangkap
      Dalam manajemen kelas rangkap memiliki beberapa kriteria, diantaranya adalah:
1.      Adanya penggabungan siswa yang berasal dari dua atau lebih tingkatan baik itu tingkatan kelas ataupun tingkatan usia.
2.      Seorang guru ditugaskan untuk membelajarkan para siswa gabungan yang terdiri dari beberapa tingkatan kelas ataupun tingkatan usia.
3.      Seorang guru melaksanakan tugas-tugas mengajarnya kepada para siswa gabungan secara serempak. Maksudnya adalah pemberian pembelajaran kepada siswa haruslah dilakukan secara serempak, namun bimbingan selanjutnya dilakukan oleh guru agar masing-masing siswa dapat memahami materi yang disampaikan. Namun bimbingan tersebut dilakukan dalam kelompok mereka masing-masing.
4.      Siswa secara individual maupun di dalam kelompok (tingkatan) tetap dikondisikan oleh guru untuk tetap aktif belajar sekalipun guru sedang memberikan bimbingan kepada siswa pada tingkatan tertentu. Dan dengan cara itu siswa dapat belajar mandiri  baik dengan ataupun tanpa bimbingan guru.
Namun yang menjadi kriteria utama dari pembelajaran kelas rangkap adalah adanya pemisahan dan segregasi. Guru membuat pemisahan yang jelas antara tiap tingkatan, tiap antar pelajaran, setiap kelompok anak yang berada didalam kelas. Anak-anak yang termasuk ke dalam satu tingkatan di organisasikan untuk berada dalam satu kelompok tersendiri. Sebagi contoh, anak-anak dari tingkatan atau kelas 1 dan 2 duduk bersama membentuk satu kelompok. Demikian juga dengan anak-anak kelas 3 dan 4. Kemudian, guru akan mencoba menjelaskasn satu mata pelajaran kepada masing-masing kelompok secara bergantian. Artinya, akan ada pelajaran matematika utnuk kelas 4 dan pelajaran matematika untuk kelas 5 dan demikian selanjutnya.

C.    Model-Model Pembelajaran Kelas Rangkap
Sehubungan dengan alasan-alasan situasi dan kondisi kebijakan ekonomi, politik, dan juga pendidikan, model-model pembelajaran kelas rangkap yang berkembang sangat bervariasi. Seperti yang diuraikan di atas, ternyata pembelajaran kelas rangkap bisa juga diterapkan pada kelas yang tradisional dalam arti bahwa guru hanya melayani para siswa dengan satu tingkatan kelas saja. Model-model pembelajaran kelas rangkap yang berkembang di belahan dunia Barat, di mana memiliki dukungan kebijakan ekonomi, politik, dan pendidikan yang kuat, bisa saja mengembangkan model pembelajaran kelas rangkap yang bervariasi dan sangat fleksibel. Di bawah ini beberapa model pembelajaran kelas rangkap yang bisa dikembangkan di Indonesia dengan dasar berpikir yang mungkin berbeda dan dengan tujuan pendidikan yang berbeda pula dengan negara yang lebih stabil.
1.      Model 221
Pengertiannya adalah guru atau dalam tim mengelola para siswa dari 2 tingkatan kelas yang berbeda, dengan fokus 2 mata pelajaran baik yang sama atau berbeda dalam 1 ruangan. Gambar di bawah ini bisa menjadi alternatif pengaturan ruangan untuk model 22.1,

 Lalu guru bisa mengatur para siswa kelas 2 duduk di deretan kanan dan siswa kelas 3 duduk dideretan kiri.
Dengan pembelajaran terpadu model terjala atau tema, guru bisa mengembangkan 2 mata pelajaran dengan topik yang sama atau berkaitan melalui sebuah tema yang menarik. Perlu diperhatikan bahwa Model 221 bisa efektif apabila jumlah siswa yang terdiri dari 2 tingkatan kelas tersebut tidak terlalu banyak (maksimum 25 siswa untuk masing-masing tingkatan kelas) dengan suatu ruangan yang cukup luas. Seperti gambar
Pada umumnya kelas SD di Indonesia diisi oleh 40 siswa untuk satu tingkatan kelas. Jika guru ingin mencoba model ini, guru harus menyiapkan dua kelas pembelajaran kelas rangkap Model 221, dan memecahkan masing-masing 2 tingkat kelas yang akan dicampur menjadi 2 sehingga ruangan tidak terlalu penuh, dan akan mengakibatkan pembelajaran tidak efektif. Otomatis karena ada 2 kelas pembelajaran kelas rangkap Model 221 ini maka guru yang harus mengolahnya pun harus 2 orang atau 2 tim.
2.      Model 222
Dengan model 222 ini, berarti guru atau dalam tim mengelola para siswa dari 2 tingkatan kelas yang berbeda, dengan fokus pada 2 mata pelajaran yang berbeda atau sama pada 2 ruangan kelas yang bersebelahan dan dihubungkan dengan adanya pintu. Gambar di bawah ini adalah pengaturan ruangan kelas yang bisa digunakan untuk Model 222.

Model ini lebih rumit dibandingkan dengan Model 221, dimana guru harus mengelola 2 kelas sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu apabila memungkinkan, pengelolaan Model 222 pembelajaran kelas rangkap dilakukan oleh tim guru sehingga bisa saling membantu. Apabila tidak bisa dengan tim guru, alternatif lainnya guru bisa menunjuk para siswa yang lebih tua dan mempunyai kemampuan yang lebih dari siswa lainnya untuk membantu mengelola pembelajaran.
3.      Model 333
Apabila guru tidak mempunyai keterampilan dan kemampuan dalam pembelajaran kelas rangkap yang baik, mungkin tidak dapat mengelola Model 333 ini karena kerumitannya. Pengertian Model 333 ini, dimana guru mengelola tiga tingkatan kelas yang berbeda dengan tiga mata pelajaran yang sama atau berbeda dalam 3 ruangan secara bersamaan. Model ini bisa saja terjadi di Indonesia terutama di daerah yang terpencil dimana jumlah guru sangat terbatas, jumlah siswa cukup banyak untuk dikumpulkan dalam satu ruangan atau 2 ruangan kelas sekaligus. Untuk mengelola Model 333 ini, diperlukan tim guru paling tidak terdiri dari 2 orang. Di bawah ini  adalah gambaran pengaturan ruang kelas yang dapat digunakan untuk Model 333.

Demikianlah model-model pembelajaran kelas rangkap yang berkembang di Indonesia saat ini. Namun demikian, untuk negara-negara yang memiliki sistem pendidikan yang lebih fleksibel dan ditunjang dengan kebijakan pendidikan yang kuat, model-model pembelajaran kelas rangkap yang berkembang pun sangat bervariasi. Saat ini dengan melihat tujuan dan keuntungan pendidikan yang dirancang, model pembelajaran kelas rangkap yang dikembangkan adalah model dimana guru atau tim guru mengelola 2 atau 3 tingkatan kelas sekaligus dengan satu mata pelajaran atau beberapa mata pelajaran dalam satu ruangan. Hal ini dimungkinkan karena rata-rata di negara yang maju memiliki ruang kelas yang cukup besar dengan perbandingan jumlah siswa paling banyak 30 siswa. Dengan kurikulum yang sangat fleksibel, guru bisa dengan bebas mengelola kelas seperti ini. Untuk mengisi pembelajaran kelas rangkap, pendekatan kurikulum terpadu selalu digunakan dengan penggunaan tema-tema yang dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari. Tambahan lagi, guru selalu mengembangkan kegiatan-kegiatan kelompok dengan menyediakan banyak lembar kegiatan dan lembar observasi.
Menurut Anwas M. Oos, setidak-tidaknya ada 5 model pembelajaran kelas rangkap, yaitu:
(1) seorang guru menghadapi siswa yang berada pada dua ruangan untuk dua tingkatan kelas yang berbeda,
(2) seorang guru menghadapi siswa dalam tiga tingkatan kelas yang berbeda dalam dua ruangan kelas,
(3) seorang guru menghadapi dua tingkatan kelas yang berbeda dalam satu ruangan,
(4) seorang guru menghadapi tiga tingkatan kelas yang berbeda pada dua ruangan kelas, dan
            (5) seorang guru menghadapi tiga tingkatan kelas yang berbeda dalam satu ruangan kelas.

D.    Pro dan Kontra Tentang Efektivitas Manajemen Kelas Rangkap.
Meskipun banyak para praktisi pendidikan mengatakan bahwa pembelajaran kelas rangkap memiliki banyak keuntungan, namun masih banyak praktisi dan konseptor pendidikan lainnya mempunyai pandangan bersebrangan tentang pembelajaran kelas rangkap. Walaupun pembelajaran kelas rangkap dianggap sebagai terobosan dalam pendekatran pengelolaan kelas yang dapat membuat pembelajaran bisa menjadi efektif, the national association for the education of young children (1996) menemukan bahwa pendekatan ini hanya cocok untuk meningkatkan efektifitas kegiatan yang terpusat pada peserta didik di tingkat sekolah dasar saja. Ditambahkan pula Cushman (1993) bahwa sekolah yang tradisional sebenarnya bisa sama efektifnya dengan sekolah yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap jika menggunakan strategi-strategi yang memperhatikan perkembangan siswa, dan siswa diperlakukan seperti yang diharapkan sehingga siswa pun akan berlaku yang diharapkan. Selain itu banyak para pendidik dan orang tua percaya dan yakin apabila kelas tradisional para siswa sudah dipenuhi kebutuhannya. Katz (1996) juga menandai adanya resiko dari pembelajaran kelas rangkap yaitu bisa saja siswa yang lebih muda merasa ditakut-takuti, atau dilampaui oleh teman sekelasnya yang lebih mampu, dan mereka menjadi sangat tergantung pada siswa yang lebih tua untuk memberikan pertolongan sedangkan untuk para siswa yang lebih tua mereka merasa tidak tertantang dan menjadi lebih berkuasa yang dibawahnya. Belum lagi untuk pembelajaran kelas rangkap dibutuhkan ruangan yang lebih lapang untuk  para siswa yang bekerja secara kelompok, dan seharusnya para siswa lebih mudah untuk mengakses bahan-bahan pembelajaran.
Pada prinsipnya dengan pendekatan kooperatif dalam pembelajaran kelas rangkap siswa dapat menyelesaikan pekerjaannya di sekolah bersama-sama dengan teman kelompok sehingga di rumah mereka tidak harus membuat pekerjaan rumah atau menyelesaikan tugas di sekolah. Kemudian sebaliknya, para pendidik yang mendapatkan manfaat dari menerapakan pembelajaran kelas rangkap mendukung dikembangkannya terus pendekatan pembelajaran kelas rangkap ini. Bahkan pembelajaran kelas rangkap ini dapat digunakan untuk pendidikan yang lebih tinggi dari pendidikan dasar.   
Dari kedua kubu yang pendapat pro dan kontra tersebut dapat dipetik pelajaran bahwa sebagai ilmu, pembelajaran kelas rangkap merupakan pembaruan yang terjadi dan berkembang dan semestinya dilaksanakan oleh guru dan memandangnya secara positif. Walaupun ada pro dan kontra tentang efektivitas pembelajaran kelas rangkap, pembelajaran kelas rangkap sebagai suatu konsep yang kuat didukung oleh beberapa teori belajar yang relevan. Di bawah ini akan dijabarkan sekilas tentang keterkaitan teori belajar dengan pembelajaran kelas rangkap, yang diantaranya adalah :
a)      Teori tentang perkembangan kognitif oleh Jean Piaget memberikan sumbangan dasar tentang latar belakang dari Developmentally Appropriate Practices. Teori ini menunjukkan kebutuhan siswa untuk membangun  pengetahuan melalui proses belajar dan juga menunjukkan kebutuhan siswa untuk meraih kesempatan berinteraksi secara fisik dengan sesama teman.
b)      Teori perkembangan sosial oleh Lev Vygotsky, dimana ditekanakan pada perkembangan kemampuan berbahasa dan bersosialisasi untuk pertumbuhan kemampuan kognitif para siswa.
c)      Teori atribut dari Bernard Weiner, dimana memberikan sumbangan dasar pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap dengan pemberian motivasi secara internal kepada siswa dan juga bagi guru yang membantu siswanya belajar karena memang siswa tersebut mempunyai keinginan untuk belajar.
d)     Teori Belajar sosial kognitif dari Albert Bandura. Teori ini menunjukkan bahwa proses belajar yang terjadi banyak dilalui dengan pendekatan model observasi.

E.     Kekurangan dan Kelebihan Manajemen Kelas Rangkap.
Beberapa keuntungan yang diperoleh siswa yang belajar dalam kelas rangkap, yaitu :
1)      Bantuan dari sesama siswa tidak saja hanya menguntungkan siswa dari kelas yang lebih rendah tetapi juga para siswa dari kelas yang lebih tinggi  ( kerja sama yang paling menguntungkan ).
2)      Para siswa terkondisi untuk belajar secara indenpenden, karena para gurunya   mendidik mereka untuk mengembangkan sikap independen dan efisien dalam belajar.
3)      Berkembangnya perasaan bangga dalam diri para siswa karena mereka merasa lebih puas sekalipun sedikit mengalami friksi dalam kegiatan belajarnya di bandingkan para siswa sekelas yang hanya terdiri satu tingkatan.
4)      Peserta didik mempunyai kecenderungan untuk mengembangkan kebiasaan bekerja secara independen dan keterampilan belajar sendiri.
5)      Kerjasama kelompok diantara para siswa yang berbeda usia dan tingkatan mempunyai kecenderungan berkembangnya etika, kepedulian tanggung jawab kelompok.
6)      Peserta didik mengembangkan sikap positif tentang saling membantu sama yang lain
7)      kegiatan-kegiatan belajar remedial dan pengayaan dapat ditata menjadi lebih produktif di bandingkan dikelas-kelas yang normal biasa.
8)      Dengan pembelajaran kelas rangkap, dimana para siswa bisa tinggal di kelas dengan satu guru dalam lebih dari satu tahun, akan membuat hubungan antara para siswa, guru, dan orang tua menjadi dekat.
9)      Dengan pembelajaran kelas rangkap akan terbangunnya iklim kekeluargaan dalam kelas, dan siswa.
10)  Para siswa yang belajar dalam kelas rangkap akan lebih berkembang dengan perpaduan antara strategi pembelajaran kelas rangkap, pembelajaran kooperatif, kelompok yang beragam, tugas-tugas yang menunjang perkembangan, pendekatan tutor multiusia, waktu yang luwes dan evaluasi yang positif.
Beberapa kekurangan yang dihadapi sekolah-sekolah yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap, yaitu :
1)      Tidak adanya pelatihan yang di selenggarakan untuk mempersiapkan atau membekali para guru yang ditugaskan mengajar di sekolah-sekolah dasar yang menerapkan pembelajaran pada kelas ragam/tingkatan
2)      Adanya sementara persepsi yang kurang pas mengenai sekolah-sekolah dasar yang menerapkan kegiatan pembelajaran ragam kelas atau tingkatan
3)      Keterbatasan berbagai sumber belajar untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran terutama yang berupa buku-buku teks, bahan belajar yang lainnya dan alat bantu mengajar.
4)      Bisa saja siswa yang lebih muda merasa ditakut-takuti, atau dilampaui oleh teman sekelasnya yang lebih mampu, dan mereka menjadi sangat tergantung pada siswa yang lebih tua untuk memberikan pertolongan sedangkan untuk para siswa yang lebih tua mereka merasa tidak tertantang dan menjadi lebih berkuasa yang dibawahnya.


F.     Aplikasi Manajemen Kelas Rangkap
Dalam pembelajaran kelas rangkap,guru cukup membuat satu program saja untuk kelas yang berbeda dengan tujuan dan hasil yang berbeda untuk kelompok yang berbeda. Pembelajaran kelas rangkap tidak memerlukan kurikulum yang terpisah untuk masing-masing tingkatan atau kelas, tetapi yang kita butuhkan adalah rangkaian peningkatan tantangan dalam pembelajaran, sehingga akan terpenuhi kebutuhan siswa masing-masing kelas. Guru kelas rangkap cukup membuat satu jadwal yang terpadu ( integrated) dan tidak perlu ada jadwal untuk tiap-tiap kelas secara berbeda-beda. Misalnya mata pelajaran bahan Indonesia untuk satu jam pelajaran telah mencakup bagi semua siswa, demikian pula mencakup penugasan bagi masing-masing siswa dengan tingkat pengembangan materi yang berbeda.
Mengelola pembelajaran diruangan  kelas rangkap ada sejumlah strategi yang dapat digunakan oleh seorang guru menghadapi kelas seperti itu, yaitu strategi pembelajaran klasikal, pembelajaran individual, dan pembelajaran berkelompok. Pembelajaran berkelompok merupakan cara yang paling efektif untuk menerapkan pembelajaran yang terpusat kepada siswa karena lewat berkelompok akan dapat terpenuhi kebutuhan siswa. Mengelompokan siswa memungkinkan mereka mengerjakan tugas yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan pembelajaran terpusat pada siswa bukan pada guru. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan pada sekolah-sekolah yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap, dikemukakan oleh para guru yang menjadi responden bahwa dibutuhkan beberapa sikap dan kualitas yang penting dimiliki oleh para guru yang akan berperan serta dalam pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap, yaitu :
a)      Mempunyai dedikasi yang sangat tinggi, dan bersedia bekerja keras diluar jam-jam pelajaran.
b)      Mempunyai kepedulian yang tinggi demi kesejahteraan para siswa.
c)      Mempunyai kesediaan untuk memberikan lebih banyak pilihan dan keleluasaan kepada para siswanya.
d)     Mempunyai kesediaan untuk melakukan eksperimen, mencoba berbagi gagasan baru, dan berani menghadapi berbagai resiko.
Ada 4 bidang kritis tentang perubahan yang harus difokuskan agar upaya pengembangan sekolah-sekolah dasar yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap dapat berhasil, yaitu:
a)      Guru perlu mengembangkan seperangkat bekal teknik-teknik mengajar dan praktek praktek pengolaan kelas
b)      Guru membutuhkan berbagai masukan, baik yang bersifat materi atau fisik, diantaranya yang sangat penting adalah bahan-bahan belajar terperogram (programmed learning materials) dan buku-buku teks (textbooks).
c)      Guru membutuhkan jaringan dukungan professional, baik yang bersifat lokal maupun yang lingkupnya lebih luas.
d)     Adanya kebijakan nasional yang berkaitan dengan model pembelajaran ragam        kelas atau tingkatan misalnya pelatihan para guru dan administrator, pengadaan guru dan pengembangannya, dan pengembangan bahan belajar yang dirancang dan dikembangkan untuk pembelajaran ragam kelas tingkatan.
Pembelajaran kelas rangkap sangat membutuhkan keahlian dan keterampilan yang baik dari guru. Apabila guru tidak menguasai keterampilan mengelola pembelajaran kelas rangkap dengan baik maka yang terjadi adalah hanya pembelajaran merangkap atau menyatukan kelas saja tanpa adanya proses pembelajaran yang bermakna. Yang perlu diperhatikan dan ditekankan dari pembelajaran kelas rangkap adalah komponen komponen berikut ini:
  1. Kelompok siswa yang mempunyai berbagai kemampuan, selain berlatar belakang usia yang berbeda. Penekanan dari pembelajaran kelas rangkap salah satunya adalah untuk meningkatkan kualitas kelompok siswa yang heterogen sehingga diantara mereka terjadipertukaran pengalaman,pengetahuan,dan kemampuan.
  2. Developmentaly Appropriate Practices. Pengalaman belajar yang aktif dari siswa, berbagai strategi pembelajaran, keseimbangan antara aktivitas yang terfokus pada guru dan pada siswa, pembelajaran terpadu,dan pemusatan proses belajar yang menunjang perkembangan para siswa.
  3. Pola kelompok yang luwes untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap, dimana 25 hingga 30 siswa berbeda, mereka bekerja dalam berbagai kelompok kecil,kelompok besar dan seluruh siswa bersamaan untuk mengelola kelompok yang bervariasi itu dibutuhkan strategi pengelolaan kerja kelompok yang sesui dengan situasi dan juga fasilitas belajar untuk setiap individu siswa. Berbagai cara bisa digunakan untuk mengelola berbagai variasi kelompok kerja siswa, seperti belajar mandiri, berkelompok dua atau lima siswa dengan pendekatan pembelajaran kooperatif, lima hingga delapan siswa untuk mengerjakan tugas, membuat proyek, yang lebih besar lagi 12 atau 15 siswa untuk berdiskusi atau untuk mendengarkan ceramah, melihat video,bermain, dan membuat laporan.
  4. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran kelas rangkap secara murni, para siswa belajar melalui proses yang kontinum. Mereka belajar dari materi yang termudah hingga sulit, konsep yang sederhana hingga rumit dengan kemampuan mereka masing-masing sehingga mereka memerlukan waktu yang berkesinambungan dan berlanjut.
  5. Adanya tim kerja yang professional. Ini merupakan kunci keberhasilan untuk memenuhi kebutuhan para siswa, dimana dikembangkan iklim kolaborasi yang positif diantara guru yang satu dengan yang lain. Agar pembelajaran kelas rangkap berhasil,perlu dibangun peningkatan profesionalisme secara terus-menerus dengan adanya kegiatan tukar pikiran dan pendapat serta pembuatan rencana bersama-sama diantara para guru.
  6. Assessment yang otentik. Menuntut siswa untuk mendemostrasikan keterampilan dan kompetensi yang menggambarakan pemecahan masalah dan situasi yang realistis yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari para siswa. Yang meliputi siswa dari aspek social, emosional,fisik, dan juga kognitif. Contohnya portopolio,pameran,presentasi, demonstrasi, dll.
  7. Pelaporan secara kualitatif. Sejauh mana para siswa berkembang dan memenuhi standar pendidikan yang ditetapkan dan untuk menjalin komunikasi antar sekolah dengan orang tua pelaporan kualitatif dapat membentuk ceklis perkembangan siswa, pertemuan orang tua dan guru,catatan anecdotal, bahkan video.
  8. Keterlibatan orang tua dan pemahaman mereka terhadap tujuan dan alasan dari pembelajaran kelas rangkap. Keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran sewaktu-waktu dikelas, dukungan dana dan bantuan belajar dirumah kepada siswa, turut memudahkan pembelajaran kelas rangkap.
Dengan melihat berbagai komponen diatas yang merupakan kunci keberhasilan pembelajaran kelas rangkap maka guru harus bekerja keras dan banyak berlatih agar secara bertahap dapat menyempurnakan keterampilannya dalam mengelola pembelajaran kelas rangkap.
Ada sejumlah strategi pembelajaran yang dapat digunakan oleh seorang guru menghadapi kelas, yaitu strategi pembelajaran klasikal, pembelajaran individual, dan pembelajaran berkelompok. Pembelajaran berkelompok merupakan cara yang paling efektif untuk menerapkan pembelajaran yang terpusat kepada siswa, karena lewat berkelompok akan dapat terpenuhi kebutuhan siswa. Mengelompokkan siswa memungkinkan mereka mengerjakan tugas yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan pembelajaran terpusat pada siswa bukan pada guru.
Dalam pembelajaran kelas rangkap, guru cukup membuat satu program saja untuk kelas yang berbeda dengan tujuan dan hasil yang berbeda untuk kelompok yang berbeda. Pembelajaran kelas rangkap tidak memerlukan kurikulum yang terpisah untuk masing-masing tingkatan/ kelas, tetapi yang kita butuhkan adalah rangkaian peningkatan tantangan dalam pembelajaran, sehingga akan terpenuhi kebutuhan siswa masing-masing kelas. Guru kelas rangkap cukup membuat satu jadwal yang terpadu (integrated) dan tidak perlu ada jadwal untuk tiap-tiap kelas secara berbeda-beda. Misalnya mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk satu jam pelajaran telah mencakup bagi semua siswa, demikian pula mencakup penugasan bagi masing-masing siswa dengan tingkat pengembangan materi yang berbeda.
Pada akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an Indonesia sudah mengenal adanya SD Kecil dan praktek perangkapan kelas khususnya untuk daerah-daerah terpencil. Keberadaan SD Kecil ini juga sudah diakui dan dimasukkan sebagai salah satu institusi yang melaksanakan Wajib Belajar 6 tahun pada tahun 1984. Pelaksanaan SD kecil ini kurang praktis dan tidak bisa menyebar karena adanya keharusan memakai modul-modul yang dikembangkan khusus untuk SD Kecil ini tapi cukup mahal, dan kurangnya pelatihan-pelatihan bagi para guru dan Kepala Sekolah SD Kecil. Disamping itu praktek perangkapan kelas hanya untuk menjawab kekurangan guru saja, bukan menjawab bagaimana kurangnya jumlah murid pada satu sekolah bisa disiasati tanpa memubazirkan guru.

Semoga bermanfaat......^_^









Tidak ada komentar:

Poskan Komentar